Monday, 22 August 2011

resensi non fiksi


RESENSI BUKU NON FIKSI

Judul Buku         : Mengenal Keris , Senjata “Magis” Masyarakat Jawa
Penulis                : Ragil Pamungkas
Penerbit              : NARASI
Cetakan              : I
Tahun Terbit       : 2007
Jumlah halaman  : 141 halaman
Harga                 : Rp 20.500,00


         Bagi Ragil Pamungkas seorang ahli keris, ahli sastra jawa dan kolektor benda antik, keris merupakan pusaka yang sangat di kaguminya. Baik dari segi sejarah, segi ragam, segi bentuk, dan juga segi  manfaatnya. Keris merupakan pusaka unik dan magis ,menurut Ragil Pamungkas. Dalam bukunya yang berjudul Mengenal Keris , Senjata “Magis” Masyarakat Jawa ia menceritakan dengan caranya yang menarik seperti dirinya menceritakan hal yang paling disenanginya dan di kaguminya.
         Sebagai seseorang yang mengagumi pusaka keris, tidak lah mengherankan jika buku-buku yang ia kisahkan merupakan buku-buku yang memaparkan banyak hal mengenai keris beserta karakternya. Misal, Keris Jawa antara Mistik dan Nalar karya B. Haryono Haryosugito yang terbit tahun 2005, atau Keris Jawa [Bilah latar sejarah hingga pasar] karya MT. Arifin yang terbit tahun 2006. Untuk keperluan pendukung data, Ragil Pamungkas menggunakan berbagai sumber sekunder.
         Tema yang diangkat oleh Ragil Pamungkas semuanya bersangkutan dengan pusaka keris. Antara lain Pengertian keris, pembuatan keris, empu keris dan hasil karyanya, bagian-bagian keris, jenis keris, dapur keris, pamor keris, melihat kekuatan keris, sampai cara pembuatan dan merawat keris. Sistematika tema yang jelas dalam buku ini, membuat pembaca tidak kerepotan.
         Sekilas karya Ragil Pamungkas ini mirip dengan buku Jawa antara Mistik dan Nalar karya B. Haryono Haryosugito yang terbit tahun 2005. Ternyata Ragil Pamungkas menggunakan buku itu sebagai panduan data sekunder dalam bukunya yang pertama ini. Dalam pembicaraan suatu bab, Ragil Pamungkas sudah sistematis (berurutan). Sehingga mudah bagi para pembaca menemukan ide yang diangkat oleh Ragil Pamungkas tanpa membolak-balik buku.
         Buku ini lebih merupakan buku sastra jawa walaupun bab yang di paparkan mengenai keris namun sesungguhnya keris tersebut merupakan hasil karya sastra jawa. Buku ini akan bermanfaat bagi mahasiswa satra jawa, empu keris, maupun masyarakat yang sama-sama tertarik tentang keris.
         Buku ini memberitahukan, bahwa bagi masyarakat jawa, keris memiliki beberapa peranan penting. Selain sebagai senjata, keris juga dipercaya memiliki kekuatan yang dapat menghubungkan antara pemiliknya dengan dunia spiritual. Meskipun perkembangan teknologi yang semakin pesat, nyatanya tak mampu menggeser nilai-nilai kepercayaan masyarakat jawa terhadap keris. Keris ada bermacam-macam sehingga karakter keris sendiri juga beraneka ragam.
         Buku ini akan lebih sempurna jika penulisnya disamping membicarakan keris juga membicarakan dengan lengkap tentang masyarakat jawa yang masih mempercayai kekuatan keris hingga kini. Dan bagaimana keris-keris tersebut digunakan oleh masyarakat jawa saat ini.
         Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2007 oleh penerbit NARASI yang berada di Yogyakarta dengan distributor tunggal PT.BUKU KITA di Jakarta.
         Hal yang belum dibahas lengkap oleh Ragil Pamungkas sebagai ahli keris yaitu mengenai desain relief yang terukir di keris dan juga makna-makna dari relief tersebut. Seperti yang ada di dalam buku Keris Jawa antara Mistik dan Nalar karya B. Haryono Haryosugito yang terbit pada tahun 2005.
         Terlepas dari ketidaksempurnaannya, harus diakui bahwa buku pertama karya Ragil Pamungkas ini cukup memikat. Dalam kadar tertentu buku ini telah memberikan sentuhan sastra yang cukup bisa dinikmati. Kami menunggu karya berikutnya.

Wednesday, 10 August 2011

SINOPSIS BUKU NON FIKSI


SINOPSIS BUKU NON FIKSI
Judul buku      : Usaha Tani Melati
Pengarang       : Ir. H. Rahmat Rukmana
Penerbit           : Kanisius
Tahun terbit    : 1997
Daftar isi         :
·           Bab 1            Pendahuluan
·           Bab 2            Mengenal tanaman melati
·           Bab 3            Syarat tumbuh tanaman melati
·           Bab 4            Pembibitan tanaman melati
·           Bab 5            Tata laksana budidaya melati
·           Bab 6            Budidaya melati dalam pot
·           Bab 7            Hama dan penyakit
·           Bab 8            Panen dan pascapanen bunga melati
     Tingginya nilai ekonomi komoditas holtikultura dijadikan simber pendapatan Negara di dunia, termasuk di Asia. Tanaman hias dan hasilnya berupa bunga termasuk kelompok komoditas holtikultura yang mempunyai prospek cerah bila dikembangkan secara intensif dan komersial. Permintaan pasar dunia akan bunga cenderung meningkat tiap tahunnya.
     Di Indonesia pengembangan usaha tani melati skala komersial mempunyai prospek cerah dan peluang pasarnya bagus. Nilai ekonomi bunga melati semakin dibutuhkan dalam kehidupan maju seperti bahan baku industri minyak wangi, kosmetik, teh , sabun, tinta, dan lain sebagainya. Hal tersebut mampu dimanfaatkan dengan baik di Indonesia karena potensi sumber daya lahan amat luas dan agroekologinya cocok untuk tani melati.
      Ada 200 jenis melati di dunia namun baru sekitar 9 jenis melati yang umum dibudidayakan yaitu melati hutan ( J. multiflorum), melati putih ( J. sambac ), melati raja ( J. rex ), J.parkeri ,   J. mensy , J. revolutum , melati Casablanca ( J. officinalle) , melati Australia ( J. simplicifolium) , dan melati hibrida. Serta terdapat 8 jenis melati potensial untuk dijadikan tanaman hias. Yaitu J. humile, J. azoricum, J.angulare, J. nitidum , J. fruticans , J. undulatum , J. gracilinum, dan J. polyantum French.
     Tanaman melati dapat tumbuh dan produksi dengan baik di dataran rendah sampai dengan dataran tinggi pada ketinggian 0-1.600 meter di atas permukaan laut. Dengan suhu siang hari 280C – 360C dan suhu pada malam hari 240C – 300C, kelembapan udara 50% - 80% , cukup mendapat sinar matahari, curah hujan 112 mm – 119 mm/bulan denngan 6 – 9 hari hujan/bulan. Serta bertipe iklim C1 yang umumnnya mempunyai 2 - 3 bulan kering dan 5 – 6 bulan basah.
     Tanaman melati membutuhkan tanah yang berekstur pasir smpai liat, aerasi dan drainasenya baik, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, dan reaksi tanah (pH) agak masam sampai netral (pH 5 – 7) serta keadaan air tanah mencukupi. Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk organic seperti kompos, kotoran ternak, humus, sekam, dan lain-lain.
     Pembibitan tanaman melati dimaksudkan memproduksi bahan tanaman hingga menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan. Secara alami tanaman melati sulit diperbanyak dengan biji. Oleh karena itu pembibitan umumnya dilakukan secara vegetative, yakni dengan setek batang atau cabang perundukan ( layering ) atau cangkok. Keuntungan pembibitan secara vegetatif yaitu dapat dihasilkan jumlah bibit yang banyak dan pertumbuhannya relative seragam serta hasil bunganya sama dengan induknya.
     Tata laksana budidaya melati yang pertama harus dilakukan adalah penyiapan lahan, dapat di lahan kebun khusus maupun di pekarangan. Yang kedua yaitu cara penanaman, yang ketiga yaitu cara pemeliharaan tanaman yang meliputi pengairan, penyulaman, penyiangan dan penggemburan tanah, pemupukan, pemangkasan, penggunaan zat perangsang pembuangan , dan perlindungan tanaman.
     Tanaman melati juga dapat diserang hama dan penyakit antara lain ulat palpita- yang menyerang daun, penggerek bunga- menyerang bunga melati yang masih kuncup, thrips- hama ini menyerang kuncup daun muda, sisik pseudococcus- menyerang batang dan tunas melati, penyakit hawar daun- cendawan jamur, dan lain sebagainya.
     Tanaman melati mulai berbunga pada umur 7-12 bulan setelah tanam. Panen bunga melati dapat dilakukan sepanjang tahun secara berkali-kali sampai umur tanaman 5-10 tahun, tergantung pada pemeliharaan dan kesuburan tanah. Setiap tahun masa berbunga melati umumnya berlangsung selama 12 minggu ( 3 bulan ).
     Ciri-ciri bunga melati yang sudah saatnya di panen adalah ukuran kuntum bunga sudah besar ( maksimal), dan masih kuncup , atau setengah mekar. Cara panen bunga melati adalah dengan petik pilih dari kumpulan bunga yang telah memenuhi persyaratan laik petik. Pemetikan dilakukan dengan tangan secara hati-hati agar tidak merusak kuntum bunga lain yang belum laik dipanen pada tangkai yang sama.